Review: The Last House on the Left (2009)

The Last House on the Left (2009)
Disutradarai Denis Iliadis
Dibintangi Garret Dillahunt, Sara Paxton, Monica Potter
Produksi Rogue Pictures 2009


Mari Collingwood (Sara Paxton), seorang gadis berusia 17 tahun yang baru saja kehilangan kakaknya pergi berlibur bersama kedua orangtuanya ke rumah mereka yang berdekatan dengan danau. Sesampainya di sana Mari mengunjungi temannya Paige (Martha Maclsaac), gadis seumuran dengannya yang menjadi seorang penjaga kasir di kota. Mereka berdua bertemu dengan Justin (Spencer Treat Clark), seorang anak laki-laki semuran mereka. Justin mengajak mereka berdua menghisap ganja di motelnya. Alas, tiga orang kriminal; Krug (ayahnya Justin), adiknya Francis, dan kekasihnya Sadie datang. Mereka menculik Mari dan Paige. Membunuh Paige dan meninggalkan Mari yang telah diperkosa Krug di danau dengan peluru di bahunya, mengira dia telah mati. Mari selamat, dengan susah payah berenang kembali ke rumahnya.

Dengan alasan kecelakaan Krug dan gengnya mencari tempat untuk menginap. Dan ternyata keluarga Mari yang membukakan pintu untuk mereka. Begitu tahu puterinya terluka parah dan pelakunya menginap di rumah mereka, kedua orangtua Mari merencanakan pembalasan dendam yang brutal.

Sepertinya Hollywood makin kekurangan ide. Setelah me-remake beberapa film horor Asia, seperti The Ring, Ju-On, dan A Tale of Two Sisters. Kali ini mereka me-remake film 70-an garapan Wes Craven berjudul The Last House on the Left (1973). Film eksploitatif yang mengundang banyak kontroversi karena kontennya yang terlalu keras.

Melihat remake akhir-akhir ini saya tidak berharap banyak. Tapi film ini mencapai bahkan melewati batas harapan saya. Saya menemukan diri saya dipuaskan dengan baik. Pemainnya bagus dan fotografinya pun bisa dibilang indah. Menurut saya film ini adalah remake paling bagus di tahun 2009 mengalahkan Friday the 13th atau pun My Bloody Valentine 3D. Kita pun disuguhi adegan-adegan sadis yang cukup menegangkan. Seperti kematian dua polisi pada adegan pembuka yang membuat saya "terganggu" atau adegan pembantaian Paige.

Tentu saja, pantas dibilang; kalau Wes Craven tidak membuat The Last House on the Left dulu, mungkin sekarang kita tidak bisa menikmati film horor berkualitas bagus yang berani. Wes Craven yang dulunya duduk di kursi sutradara dan Sean Cunningham sebagai produser kini kembali lagi menjadi produser. Dengan sutradara Denis Iliadis (Hardore) membopong aktris Sara Paxton (Mari Collingwood), Garret Dilahunt (Krug, di film original diperakan David Hess yang juga mengkomposi soundtrack di film versi '72).

Sekarang mari bicarakan adegan pemerkosaan yang mengundang banyak kontroversi. Menonton adegan ini saya merasa sangat terganggu sekali. Ada perasaan tidak enak ketika menontonnya. Akting Sara sangat bagus dan membuat saya merasa kasihan padanya. Begitu realistik. Sangat menyeramkan, mengetahui hal-hal ini dapat terjadi di pada kita. Well, memang itu tujuan untuk sebuah film thriller, right? Mereka sendiri bilang kalau adegan-adegan sadistik di original sudah ditone-down di remake. Tapi tetap saja banyak adegan yang membuat kita memalingkan muka karena jijik melihatnya.

Beberapa shot terlihat indah dan tak bertele-tele. Untuk musik, beberapa score terdengar pas dan masuk dalam film. Seperti adegan setelah pemerkosaan ketika Mari mencoba meloloskan diri, musiknya sangat indah dan kuat. Lebih bagus daripada score di film original. Ada juga tambahan nilai plus dalam film ini, beberapa adegan fight yang sangat seru ditonton dan sangat sayang kalau dilewat. Contoh, nih; Sadie, satu-satunya wanita dalam Krug dan gengnya, menyerang John, Ayahnya Mari dengan lihai dan keren. Topless pula! Pantas film ini tidak beredar di Indonesia.

Untuk akting, menurut saya malah lebih bagus ketimbang original, tak ada yang berlebihan tak ada yang kurang, semuanya ada pada porsi yang pas dari para pemain. Sara Paxton pun terlihat total dan believable, saya sangat tidak menyangka (melihat film dia sebelumnya yang sangat cheesy seperti Aquamarine). 6/10.

Kurnia Cahya Putra

A self-proclaimed movie geek.

1 komentar:

  1. Belum nonton...
    jadi pengen nyari dvdnya kie..
    he he

    BalasHapus