Review: The Expendables (2010)

The Expendables (2010)
Directed by Sylvester Stallone
Starring Sylvester Stallone, Jason Statham, Jet Li
Copyright Millennium Films 2010


Lihat nama-nama di atas? Sylvester Stallone, Jason Statham, Jet Li, Eric Roberts, Mickey Rourke tergabung dalam satu film epik garapan Sly (yang sebelumnya memberikan kita mahakarya "Rambo" di 2008). Dan mereka akan masuk dalam aksi laga yang mendebarkan. Belum lagi ditambah kameo dari Bruce Willis dan salah satu gubernur Amerika Arnold Swazsayagaktaunamanya. Apa lagi yang bisa kita minta?

Tapi apakah The Expendables mampu mencapai ekspektasi saya? Ya, bisa dibilang begitu. Saya tidak berharap film ini menjadi film kawakan Oscar-worthy layaknya The Hurt Locker, itu menggelikan. Tidak, tidak, saya hanya mau menghabiskan waktu saya dengan menyenangkan. Dari segi cerita film ini tidak memiliki keistimewaan, tipikal film aksi laga tahun 80-an yang Stallone sering mainkan.

The Expendables menceritakan tentang aksi jahat kediktatoran para tentara elit di pulau kecil di Amerika Selatan. Dipercaya seorang agen mantan CIA (Eric Roberts) berada dibalik semua ini. Ketika ditawari pekerjaan untuk menumpas mereka oleh agen CIA lain (kameo dari Bruce Willis), Barney (Stallone) sempat menolak karena merasa terlalu bersiko. Tetapi setelah dia bertemu Sandra (Gisele Itie) puteri dari jendral diktator yang justru sudah muak dengan situasi di wilayahnya, dia berubah pikiran. Lantas, Barney dan sekelompok timnya kembali menuju pulau tersebut untuk menumpas kejahatan di sana.

Plot yang cukup tipis bukan? Seperti saya bilang, layaknya film-film laga B di tahun 80-an. Tapi itu terbayar dengan aksi-aksi para jagoan kita yang sangat seru. Kita disuguhi adegan-adegan berkelahi, tinju-meninju, tusuk-menusuk, tembak-menembak yang tidak membosankan sama sekali. Tampaknya Stallone yang duduk di kursi sutradara lebih mengutamakan menonjolkan kemampuan bintangnya ketimbang pendalaman karakter atau penekanan cerita. Salah satu adegan favorit saya adalah ketika Barney dengan mudahnya mengiris pergelangan tangan, memotong kepala, dan mematahkan leher salah satu musuhnya. Dan juga... well, saya tidak mau merusak pengalaman menonton anda. 

Hal yang saya tidak suka dari film ini adalah dialognya yang masih terkesan cheesy. Beberapa dialog jenaka yang disisipkan mungkin hanya mampu membuat kita tersenyum kecil. Juga dengan spesial efeknya yang kurang memadai. Mungkin CGI (Cumputer Generated Imagery) adalah masalah utamanya. Darah-darah yang muncrat terkesan berlebihan dan palsu, begitu pula kobaran api pada klimaks cerita. Saya lebih suka efek biasa hand-made jaman dulu. CGI sebenarnya bisa menjadi alat pencerita yang bagus jika digunakan dengan benar seperti pada Jurassic Park atau trilogi The Lord of the Ring.

Tapi overall, saya merasa puas mau menghabiskan uang untuk satu tiket masuk dan menghabiskan 103 menit yang menyenangkan dalam hidup saya. Recommanded. Terutama untuk anda yang sucker for action movies like this!

Kurnia Cahya Putra

A self-proclaimed movie geek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar