Review: Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1 (2010)

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1 (2010)
Disutradari David Yates
Ditulis oleh Steve Kloves Berdasarkan Novel Karya J.K. Rowling
Dibintangi Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson
Produksi Warner Brothers 2010


Menjadi bagian akhir dalam seri kolosal Harry Potter, Harry Potter and the Deathly Hallows dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama dirilis November ini dan yang terakhir Juli mendatang. Kru di balik pembuatan ini bilang keputusan ini diambil karena akan terlalu banyak detail yang harus ditinggalkan dari buku untuk memadatkannya dalam satu film. Tapi tentu saja, alasan sebenarnya di balik semua ini adalah uang.

Sebagai seorang anak kecil yang tumbuh dengan menonton seri Harry Potter, trilogi Scream, dan film Anconda-nya Jennifer Lopez, saya benar-benar tidak sabar menunggu film ini. Tepat tanggal 19 November, tanggal rilis film ini di seluruh dunia, saya dan teman-teman saya langsung pergi ke bioskop, literally benar-benar tidak bisa diam di kursi teater, dan ketika logo Warner Bros. muncul diiringi Hedwig's Theme yang sangat familiar di telinga saya, saya ingin berteriak sekencang-kencangnya sambil meninju udara. Menghembuskan napas lalu bilang, "finally..."

Cukup mengejutkan; Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1 mampu mencapai ekspektasi saya. Menurut saya, film ini merupakan film terbaik dalam serinya dengan Prisoner of Azkaban sangat dekat di posisi kedua. Saya rasa keputusan untuk membagi film ini menjadi dua tepat karena memang sangat banyak detail yang harus diceritakan. Dan karena itu durasi dua setengah jam benar-benar sangat tidak terasa. Part 1 dari Deathly Hallows merupakan build-up yang kuat untuk final yang akan kita saksikan Juli mendatang.

Seri ini, seperti setiap karakter di film ini, telah tumbuh. Jangan harap film ini akan menjabarkan bagaimana menyenangkannya dunia sihir. Tapi sebaliknya, bahaya mengintai di tiap sudut ketika Voldemort mulai menguasai Kementrian.

Film ini dimulai dengan montage yang dibalut dengan musik indah garapan Alexandre Desplat mengenai beberapa pengorbanan yang harus ketiga sahabat ini lakukan. Ron masih tinggal di the Burrow yang sudah dibangun kembali akibat serangan Pelahap Maut, Harry bernostalgia kembali dengan kamarnya di bawah tangga, dan Hermione menghapus ingatan kedua orangtuanya dan mengirim mereka ke Australia demi keselamatan mereka. Adegan yang cukup menyentuh dan emosional.

Adegan berlanjut dengan pertemuan Voldemort dan para pengikutnya untuk merencanakan pembunuhan Harry Potter. Kesan gelap sudah muncul seakan-akan seluruh shot dalam film ini direkam dalam ruangan tak berlampu. Sejauh ini, novel Deathly Hallows merupakan novel tergelap dalam serinya, dan David Yates selaku sutradara mampu menangkap atmosfer itu. Sinematografi di film ini sangat bagus dan layak mendapatkan nominasi Oscar walaupun sinematografi Half-Blood Prince masih lebih bagus.

David Yates, dimulai dari Order of the Phoenix, mentransisikan Harry dari seorang anak-anak menjadi pria dewasa. Kini dia harus memimpin pencarian Horcrux, bagian dari jiwa Voldemort yang disimpan di tujuh benda berbeda. Kerumitan pencarian dari ketujuh benda ini membuat intensitas emosi dalam ketiga sahabat itu meningkat. Hingga akhirnya Ron bertengkar dengan Harry dan pergi meninggalkannya. Daniel, Rupert, dan Emma memberikan performa paling bagus yang pernah mereka berikan sepanjang seri ini. Kudos!

Tapi walau ditinggal sahabat terdekat mereka, pencarian terus berlanjut. Suasana yang mencekam turut hadir dan bahaya mengintai di setiap sudut. Serangan Pelahap Maut seperti tak henti dan film ini menampilkan adegan paling menyeramkan dalam seri Harry Potter ketika Harry dan Hermione mengunjungi Bathilda Bagshot di Godric's Hollow. 

Tetapi Steve Kloves selaku penulis naskah dan David Yates tak lupa memberikan joke kecil di sana-sini untuk mencairkan suasana. Membuat film menjadi tidak totally dark dan depressing. Seperti adegan di mana tujuh orang berubah menjadi Harry atau ketika Harry menerima tongkat baru. Film ini juga memiliki banyak momen menyedihkan. Salah satu momen yang sangat menyentuh (dan tidak ada di buku) adalah ketika Harry berdansa dengan Hermione untuk menghiburnya setelah kepergian Ron. Menyedihkan sebenarnya melihat di film-film sebelumnya mereka hanya anak kecil polos tak tahu apa-apa dan sekarang tanggung jawab yang besar dibebani di punggung mereka.

Yang paling menonjol di film ini mungkin Emma Watson. Dulu saya mengira dia aktris paling lemah dalam ketiga sahabat di seri ini. Aktingnya hanya menggerakan alis secara abnormal dan bernapas ngos-ngosan setiap kali berbicara. Tapi dia benar-benar berkembang di sini. Saya bisa merasakan perasannya ketika dia memanggil-manggil nama Ron yang pergi setelah pertengkaran, dan teriakannya ketika disiksa Bellatrix mampu membuat bulu kuduk saya merinding. Rupert Grint, yang selalu konsisten di film pertama juga menunjukkan peningkatan, begitu pula Daniel Radcliffe. Apalagi Helena Bonham Carter yang memerankan Bellatrix. Dan Alan Rickman yang memerankan Snape mampu bersinar di film ini walau hanya punya satu scene.

Pendek kata; Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1 merupakan film yang solid sekaligus kuat untuk membangun Part 2. Sejauh ini merupakan film terbaik dalam serinya.

Kurnia Cahya Putra

A self-proclaimed movie geek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar