Review: Eat Pray Love (2010)

Eat Pray Love (2010)
Starring Julia Roberts, Javier Bardem, Christine Hakim
Directed by Ryan Murphy
Copyright Paramount Pictures


Berdasarkan buku autobiografi yang laris manis di pasaran, Eat Pray Love menceritakan kehidupan sang penulis memoir; Elizabeth Gilbert. Dalam perjalanannya mengunjungi Italia, India, dan Indonesia dalam satu tahun. Perjalanan yang juga merupakan sebuah pencarian jati diri untuk menemukan apa yang ia inginkan, dan apa yang ia lakukan setelah perceraian yang dialaminya.

Dalam garis singkat, Eat Pray Love menceritakan Liz Gilbert (Julia Roberts) memiliki apapun yang wanita modern inginkan; suami, rumah, karier yang sukses - tapi seperti banyak orang lainnya, dia menemukan dirinya tersesat, kebingungan, dan mencari apa yang sebenarnya ia inginkan dalam kehidupannya. Baru bercerai dan memutuskan pacar barunya setelah itu, dia melangkah keluar dari zona nyamannya, mengorbankan apapun untuk mengubah hidupnya, dan berkelana ke tiga negara untuk menemukan dirinya sendiri. Dalam perjalanannya ia menemukan nikmatnya menikmati makanan di Italia, kekuatan doa di India, dan akhirnya, kedamaian, keseimbangan, dan cinta sejati di Bali.

Bagi sebagian orang, menceraikan suami, memutuskan pacar baru, dan pergi ke tiga negara hanya untuk menemukan jati diri terdengar egois. Namun Julia Roberts mampu membuat karakter protagonis Liz di sini menjadi orang yang simpatetik di awal film, menyenangkan, dan kita bisa dipedulikan. Dia sangat berkarisma dan memberikan performa akting yang baik. Bravo untuk Julia!

Dimulai dari Italia, segmen pertama dalam film ini sangat menyenangkan. Kita dijamin akan tergiur dengan tampilan makanan Italia. Julia mampu membuat makanan-makanan itu terlihat amat nikmat ketika menyantapnya. Dilanjutkan di India, Julia melakukan meditasi untuk mendekatkan dirinya pada Tuhan. Di sini muncul Richard Jenkins, karakter yang menyenangkan dan memiliki chemistry yang baik dengan Liz. Berhati baik dan bijak walaupun menyebalkan. Setelah itu kita dibawa ke Bali. Sinematografinya terlihat sangat indah dan membuat kita ingin pergi ke sana. Tak ada yang salah dari segmen ini, kecuali kisah cinta antara Liz dan Felipe. Kesannya terlalu buru-buru, ditambah tidak adanya chemistry antara Julia dan Javier yang memperburuk keadaan. Sangat disayangkan.

Kekurangan lain dari film ini adalah durasinya yang kelewat panjang hingga terasa membosankan. Saya ingat memeriksa jam ketika menonton dan itu bukan pertanda yang bagus. Beberapa adegan detail mungkin dapat dipangkas agar cerita menjadi lebih padat. Tapi editing dari film ini bagus; sebagai contoh transisi dari satu negara ke negara lain. Cukup memuaskan.

Film ini cukup bagus. Tidak seburuk yang ditulis review-review kebanyakan. Tapi tidak bagus hingga layak mendapat penghargaan atau apapun. Film ini bisa kita nikmati jika tidak ada hal lain yang dapat dilakukan dan malam terasa amat suntuk. Overall, 5.0/10.

Kurnia Cahya Putra

A self-proclaimed movie geek.

2 komentar:

  1. FIlmnya shooting di Bali, lumayan buat bangga Indonesia. O ya, Cinta Laura katanya maen di film ini ya ga? Jadi pemeran utaam atau figuran si Cinta Lauranya?

    BalasHapus