Review: Rapunzel/Tangled (2009)

Permulaan Disney Renaissance yang Baru

oleh Kurnia Cahya Putra

Rapunzel/Tangled (2009)
DisutradaraiNathan Greno dan Byron Howard
Dibintangi Mandy Moore and Zachary Levi
Produksi Walt Disney Animation Studio


Rapunzel merupakan film animasi ke-50 dari studio Walt Disney yang menceritakan tentang putri berambut sepanjang 70 kaki yang dikurung di menara selama hidupnya. Disutradarai Nathan Greno dan Byron Howard (yang sebelumnya menyutradarai Bolt), disulih suara oleh aktris multi-talent Mandy Moore dan aktor sekaligus komedian Zachary Levi, dan digubah oleh komposer musik pemenang Oscar, Alan Menken (Aladdin, Beauty and the Beast, The Little Mermaid), Rapunzel, atau Tangled sebagaimana dirilis di Indonesia, terlihat menjanjikan.

Film ini menceritakan bagaimana tokoh utama kita, Rapunzel, diculik Gothel ketika masih bayi setelah mendapat kekuatan dari bunga ajaib yang mampu membuat seseorang tetap awet muda. Rapunzel pun dikurung Gothel di sebuah menara yang jauh di pedalaman hutan agar Gothel bisa memanfaatkan kekuatan rambutnya Rapunzel untuk dirinya sendiri. Karena hal ini, Rapunzel tumbuh menjadi remaja yang, selain cantik, penuh dengan rasa penasaran, apalagi terhadap sebuah peristiwa tahunan yang selalu terjadi di hari ulang tahunnya, yaitu pelepasan ratusan lentera ke atas langit malam di luar jendela menaranya. Gothel tak pernah mengijinkannya keluar untuk mencari tahu apa artinya, namun permohonan Rapunzel yang satu ini pun akhirnya terkabul ketika seorang bandit bernama Flynn Ryder terpaksa bersembunyi di menaranya dan mau tak mau berjanji padanya bahwa dia akan memberikan bantuan karena Rapunzel berhasil mengambil alih hasil curiannya.

Saya dan teman-teman saya tertarik menonton film ini ketika kami sedang menyusuri lorong bioskop sehabis menonton sebuah film dan melihat posternya yang dipampang di salah satu sisi tembok. Beberapa dari kami berkomentar bahwa film ini akan memiliki animasi yang bagus karena rambutnya Rapunzel nampak terlalu mendetail karena kami seakan bisa memisahkannya helai per helai. Kami pun memutuskan bahwa dugaan itu sudah cukup untuk menjadi alasan yang kuat bagi kami untuk menonton. Lagipula, kami tidak sibuk. Kami memang seharusnya bersenang-senang. Kami anak SMA. 100 menitan pun kami habiskan untuk film ini di kesempatan menonton berikutnya, dan ketika kami keluar dari studio lagi, saya secara yakin bisa mengatakan bahwa setelah barisan film-film medioker seperti Bolt, Chicken Little, and to some extent (karena sebenarnya tidak buruk-buruk amat), The Princess and the Frog, saya bisa mengatakan bahwa Disney Animation Studios telah kembali.

Tangled bekerja pada setiap level. Cerita, penokohan, visual, musik, dan sebagainya. Saya cukup terkejut, sebenarnya, mengingat bagaimana trailer film ini sebelumnya hanya menampakkan komedi slapstik konyol di mana Flynn terjerat dan dihajar habis oleh rambutnya Rapunzel yang hidup. Bukan berarti komedi slapstik buruk juga, hanya saja ide di baliknya saja yang bodoh. Untung saja itu hanya trik pemasaran, dan komedi slapstik yang hadir di film sesungguhnya jauh lebih intelijen. Tangled juga memiliki komedi visual yang bagus seperti dari tokoh para sidekick-nya, si kuda dan bunglonnya. Secara keseluruhan, homor yang ada dalam Tangled akan mampu membuat siapa saja, setidaknya, menyunggingkan senyum kecil. Pada lapisan yang lebih dalam, Tangled juga memiliki cerita menarik yang diiringi penokohan yang masuk akal, terutama pada tokoh utamanya sendiri, Rapunzel. Salah satu adegan favorit saya adalah ketika Rapunzel pertama kali menginjakkan kakinya di luar menara, dan dia mengalami gelombang emosi yang cukup gila, di mana pada satu kesempatan dia amat sangat gembira dan pada kesempatan lain dia begitu membenci dirinya karena melanggar larangan ibunya. 

Yang sedikit saya kecewakan mungkin adalah fakta bahwa Disney memilih untuk melakukan animasinya dengan teknologi CGI daripada gambaran tangan seperti biasanya. Saya sesungguhnya amat merindukan animasi tradisional semacam itu dari Hollywood, dan pada awalnya, Rapunzel juga direncanakan akan dibuat seperti itu, tapi saya rasa itu akan merepotkan, dan hasil akhirnya juga untungnya berhasil membuat saya cukup senang juga. Dalam salah satu featurette, para pembuatnya pun menyebutkan bahwa mereka tak sepenuhnya melupakan animasi 2D, dan bahwa gaya yang ingin mereka capai kurang lebih adalah "animasi 2D yang menjadi hidup". Saya rasa mereka sudah berhasil. Adegan lentera di tengah film adalah salah satu adegan terindah yang pernah keluar dari Disney Animation Studio, dan jika dalam jajaran film Disney Princess, sebanding dengan adegan ball room dalam Beauty and the Beast. Saya menontonnya dalam 3D. It was worth every penny.
Di sisi lain, gubahan lagu-lagu dalam film ini juga akan cukup untuk membuat fans Disney merasa terpuaskan, meskipun tak ada yang mencuat secara khusus seperti "Part of Your World" atau "A Whole New World", mungkin. Lagu duet utamanya, "I See the Light", cukup enak didengar telinga, tetapi saya akui, hanya standar saja kualitasnya. Visualnya, adegan lentera tadi, yang sungguh-sungguh mendukung. Begitu romantis hingga saya jadinya sedikit meringis mengonsumsi manis sebanyak itu. Mandy Moore, pengisi suara Rapunzel, mungkin sedikit pop-ish dalam bernanyi, namun dia memberikan kepolosan yang menggemaskan pada tokoh Rapunzel dalam akting suaranya. Zachary Levi juga sangat berhasil dalam menghidupkan tokoh Flynn.

Pada akhirnya, saya merasa sangat terpuaskan dengan film ini. Dilapisi dengan elemen petualangan seru yang dibumbui dengan adegan-adegan action yang exciting untuk mengimbangi adegan romansanya yang pada akhirnya memiliki pay-off yang kuat, Disney akhirnya kembali dengan Tangled, film yang patut disandingkan film-film klasik Disney era Renaissance lainnya seperti The Little Mermaid, Beauty and the Beast, dan The Lion King. Benar-benar direkomendasikan. 8/10.

Kurnia Cahya Putra

A self-proclaimed movie geek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar