Review: Frozen (2010)

Frozen (2010)
Disutradari dan Ditulis oleh Adam Green
Dibintangi Shawn Ashmore, Emma Bell, dan Kevin Zegers
Produksi A Bigger Boat, ArieScope Pictures


Dan Walker (Kevin Zegers), pacarnya Parker O'Neil (Emma Bell), dan sahabatnya Joe Lynch (Shawn Ashmore) pergi ber-snowboarding di Gunung Holliston untuk melepaskan kejenuhan mereka dan bersenang-senang selama liburan. Sayangnya, mereka bertiga tidak punya cukup uang untuk membeli tiga tiket kereta gantung untuk menuju puncak gunung. Dengan mengandalkan $100 dan Parker, satu-satunya perempuan di antara mereka, untuk mengemis kepada Jason, sang karyawan stasiun kerta gantung, mereka akhirnya berhasil naik dan berski hingga malam menjelang. Ketika stasiun kereta gantung akan ditutup, mereka memutuskan untuk berski sekali lagi. Jason yang awalnya enggan akhirnya mengiyakan mereka naik setelah diingatkan tentang $100 yang diperolehnya dari mereka. Naasnya, Jason harus menyelesaikan suatu masalah setelah mereka sudah naik dan digantikan oleh karyawan lainnya. Karyawan yang satu ini salah paham dan mematikan mesin penggerak kereta gantungnya, meninggalkan Dan, Parker, dan Joe terjebak di puncak gunung. Lampu resort dimatikan, dan mereka akhirnya sadar bahwa takdir mereka hanya dua: melompat turun dari ketinggian yang tentunya akan melukai mereka atau menetap dan mati kedinginan.

Adam Green, yang dikenal dari Hachet, kali ini menulis dan menyutradari film horror-survival. Genre di mana biasanya terdapat satu atau dua orang yang terjebak dalam sirkumstansi mustahil dan dihadapi dengan pilihan antara hidup dan mati, seperti James Franco yang terjepit tebing dalam 127 Hours atau sepasang kekasih yang ditinggal orang-orang di samudera dalam Open WaterFrozen mungkin tidak memiliki premis yang setara probabilitasnya dengan film-film tersebut, namun para pembuatnya cukup berhasil memberikan produk yang sukses dalam aspek-aspek terpenting dalam genrenya seperti suspense, ketegangan, dan drama. Ada satu adegan tertentu yang sangat memorable, dan gua anggap sebagai salah satu adegan paling bagus dalam genre thriller karena bobot emosinya yang besar dan disampaikan dengan luar biasa baik oleh Emma Bell. Gua nggak akan ngasih tau itu adegan apa, tapi yang jelas, lo bakalan tertohok. Selain Emma Bell yang berhasil menunjukkan segala macam emosi dan rasa takutnya dengan otentisitas yang tulus, Shawn Ashmore juga bermain dengan memadai sehingga perkembangan tokohnya dari seorang temen yang lumayan nyebelin jadi seorang... pahlawan pemberani (tai) jadi realistis. Kevin Zegers, di sisi lain, memiliki peran yang lebih kecil, tapi dia ngelakuin yang terbaik yang dia bisa dan tentu aja meninggalkan impact yang cukup besar bagi penonton. Kenapa? Lo musti tonton sendiri. Kesimpulannya, buat sebuah film horor, film ini punya akting yang lebih dari cukup.

Apa yang kurang dari film ini? Selain premisnya yang agak mustahil, film ini juga punya lubang-lubang yang muncul karena premis itu. Film ini juga suffers dari permasalahan yang sama kayak film-film horor lainnya: keputusan bodoh dari para tokohnya. Nggak jarang lho lo bakal gregetan dan frustrasi pengen ngomel sama mereka. Tapi, itu nggak cukup kok buat jadi peringatan bagi lo supaya stay away dari film ini soalnya film ini sangat worth it buat ditonton kalo lo lagi pengen tegang-tegang disko. Dibawa dengan tempo yang pas dan tingkat ketegangan yang makin lama makin naik, film ini bakalan muasin adrenalin lo. Awalnya, gua agak takut film ini bakalan ngebosenin sebagaimana gua takut film-film lainnya yang kayak gini bakal ngebosenin. Hal apa aja yang bisa terjadi di atas kereta gantung selama 90 menit? Ternyata, banyak. Jadi, buat lo para horror lovers out there, do not miss this one little flick. 8/10.

Kurnia Cahya Putra

A self-proclaimed movie geek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar