Review: Scream 4 (2011)

Just Enough

oleh Kurnia Cahya Putra


Scream 4 (2011)
Disutradarai Wes Craven
Dibintangi Neve Campbell, Courteney Cox, David Arquette,
Emma Roberts, Hayden Panettiere
Produksi Dimension Films 2011


Scream adalah serial horor favorit gua. Dengan dialog yang jenaka, tokoh-tokoh yang tiga-dimensional, adegan-adegan yang sukses ngasih ketegangan, serta elemen meta, serial Scream berhasil ngejarakkin dirinya dari serial slasher lain dan menjadi sesuatu yanng groundbreaking. Gua nonton film pertamanya waktu SMP, dan gua langsung jatuh cinta sama triloginya semenjak itu. Nggak kebayang dong gimana muka gua waktu film keempat diumumin bakal dibuat? Dan nggak cuma dibuat, Neve Campbell, Courteney Cox dan David Arquette, ditambah sang sutradara Wes Craven dan sang penulis Kevin Williamson, juga kembali ke peran mereka masing-masing. To say that I can't wait would be an understatement.

Scream 4 kembali berpusat pada Sidney Prescott (Neve Campbell), korban selamat dari ketiga film sebelumnya yang sekarang udah jadi penulis buku sukses dan sedang tur nasional. Dia lumayan udah bisa pulih dari traumanya dan kembali ke Woodsboro, kampung halamannya, untuk pemberhentian terakhir turnya. Di sana, dia reuni juga sama dua tokoh dari ketiga film sebelumnya, Gale Weathers, reporter yang sedang menghadapi writer's block, dan Dewey Riley, former cop kekanakan yang sekarang udah jadi sherrif. Sidney rupanya kembali di saat yang tepat (atau nggak tepat tergantung dari perspektif lo), yaitu pada anniversary pembantaian anak-anak SMA Woodsboro yang melibatkan dirinya 15 tahun silam, yang sekarang nge-trigger rentetan pembunuhan lainnya dan menaruh anak-anak SMA Woodsboro generasi kini seperti Jill Roberts (Roberts) yang juga keponakannya, Kirby Reed (Panettiere), Olivia Morris (Jaffe), Robbie Marcer (Knudsen), Charlie Walker (Culkin) dan Trevor Sheldon (Tortorella) dalam keadaan bahaya.

Kayaknya cuma segitu aja plot dari film ini yang bisa gua beberin. Gua nggak mau ngerusak pengalaman nonton kalian dengan ngasih tahu tiap detail dari film yang ikon topeng pembunuhnya suatu saat bakal gua tato di dada ini. Gua punya ekspektasi yang tinggi buat Scream 4, dan secara pribadi, gua cukup gembira buat bilang bahwa itu lumayan terpenuhi. Nggak sepenuhnya, tapi cukup. Sebagai film slasher pertama gua di bioskop, Scream 4 berhasil ngasih pegalaman first time yang wonderful dan ngebikin gua hungry for more. Sama seperti film pertamanya yang berhasil ngritik kondisi perfilman slasher Hollywood pada masa itu, Scream 4 juga berhasil ngritik kondisi perfilman slasher Hollywood pada masa kini, yaitu kurangnya kreativitas para pembuatnya yang dengan malasnya cuma bisa terus-menerus ngedaur ulang film-film slasher dari tahun '80-an. Relevansi ini juga ngebikin Scream 4 jadi salah satu sekuel terberhasil dalam serinya jika dibandingin dengan Scream 2 atau Scream 3 yang masing-masing mengkritik sekuel dan trilogi yang pada masa itu sebenarnya nggak begitu bermasalah.

Sayangnya, tema yang menarik ini sedikit dirusak oleh skenarionya. Scream adalah seri yang selalu menggabungkan horor dengan humor buat mengakomodasi elemen satirnya, dan dalam film pertama dan kedua, mereka kurang lebih berhasil ngejaga keseimbangan di antara keduanya. Setelah film ketiga yang sangat Scooby-Doo-ish karena minimnya darah dan banyaknya adegan implausible, Scream 4 nggak begitu berkembang dalam segi tone karena inklusi dialog-dialog guyonan yang merusak suasana. Memang film ini cukup bloody, jauh dari yang ketiga dan kedua dan mungkin sedikit lebih dari yang pertama bahkan, tetapi beberapa adegan yang mengandung aspek itu malah terganggu karena diselipin omongan konyol dari tokoh-tokoh di dalemnya. Ambil contoh waktu ada yang ditikam keningnya di dalam mobil, dan dia jalan keluar dengan darah berkucuran lalu berhenti di tengah jalan buat berujar, "Fuck Bruce Willis," sebagai call-back ke humor di beberapa adegan sebelumnya, sebelum jatuh ke aspal. Gimana nggak rusak? Ini sepertinya terjadi karena Ehren Krueger, penulis skenario untuk film ketiga, dibawa balik buat ngemoles draft yang gua yakin sebenernya udah sempurna dibikin oleh Williamson. Gua sendiri nggak paham kenapa para eksekutif bertindak begitu.

Hal lain yang bikin gua penasaran dari film ini adalah adegan pembukanya, salah satu aspek seri Scream yang paling terkenal selain topeng Ghostface dan unsur satirnya. Setelah adegan pembuka film pertama yang heartbreaking, film kedua yang orisinil dan jenius, dan film ketiga yang yah... so-so lah... gua pengen tahu inovasi apa yang dibikin Williamson supaya serinya tetep fresh. Gua nggak bisa bilang, ya dia ngasih apa, tapi yang jelas, dia berhasil nge-accomplish task itu. Waktu gua tonton pertama kali, the first thing that went through my mind was these three common words, "What. the. fuck?" lalu gua ketawa, sebagian seneng karena masih bisa dikagetin dan sebagian atas keabsurdan set-up-nya juga. Ada kurangnya sih gua akuin, apalagi ketika masuk ke "the real thing", tapi... ck aduh, gimana, ya? Gua nggak bisa komplain soal ini tanpa ngebeberin. Ya, pokoknya pay-off-nya sebenernya bisa lebih greget deh. Dugaan gua ini juga terbukti waktu gua ngeliat versi alternatifnya di YouTube yang work much, much better for its rawness. Once again, I blame the executives yang nggak pede sama versi yang ini dan minta nge-reshoot.

Untuk urusan pemain, Scream 4 udah lebih berhasil memuaskan penggemar setianya yang ngikutin dari awal dengan cuma ngebalikin Campbell, Cox, dan Arquette. Meskipun udah film keempat, Campbell secara profesional ngasih penampilan yang total kayak di film-film sebelumnya, yang make-sense dan jika ditonton dari film pertama, bakalan keliatan perkembangannya. Gua juga suka gimana dia sekarang udah bener-bener bad-ass dan bukan korban, kayak Sarah Connor di T2 atau Ellen Ripley di Aliens. Sidney Prescott sudah sampai ke tahap itu. They've gone through so much shit that they have no choice but to just accept another shit. Cox dan Arquette ngasih performance yang adequate, sayang chemistry mereka nggak seelektrik di ketiga film sebelumnya. Perceraian yang mereka lagi laluin pada masa produksi film ini (yes, Cox and Arquette met on the set of the first movie and were married in real-life) bener-bener keliatan di hasil akhirnya.

Untuk jajaran pemeran generasi barunya, Panettierre yang paling bersinar sebagai Kirby. She's fuuun (with three "u"s), albeit amat insensitive dan inappropriate di one particular moment (tapi itu lebih ke masalah skenarionya sih). Rory Culkin juga memerankan Charlie, seorang remaja pemuja film horor (a la Randy atau gua ehehe hehe), dengan baik, meskipun amat sangat creepy (but I guess it's a part of his character). Jaffe dan Tortorella nggak ngelakuin banyak untuk meninggalkan begitu banyak kesan, begitu juga Knudsen yang basically Randy 2.0 (Randy itu tokoh dari ketiga film sebelumnya, FYI). Roberts, on the other hand, is bloody awful. I'm sorry. Apa emang dia seharusnya mainin tokohnya kayak gitu? Gua nggak ngerti deh, tapi yang jelas, gua nggak bisa aja nganggep dia serius sama sekali di adegan-adegan akhir. Gua cuma bisa kayak, "Udah, dek, duduk aja yang manis, jangan sotoy." Tonton deh. Lo bakal ngerti kenapa.

Secara keseluruhan, Scream 4 berhasil ngasih dampak positif bagi perjaka film slasher di bioskop kayak gua, tapi gua rasa, it could be better. It lives up to my expectation, and it's one of the best in the series. You're gonna have a great time watching it. 7/10.

Kurnia Cahya Putra

A self-proclaimed movie geek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar