Review: Cloverfield (2008)

Cloverfield (2008)
Disutradarai Matt Reeves
Dibintangi Mike Vogel, Jessica Lucas, Lizzy Caplan
Produksi Paramount Pictures

"It's eating people." -Marlena Diamond


Genre found footage atau mockumentary cukup digandrungi kala ini. Dimulai dengan Cannibal Holocaust, dipopulerkan The Blair Witch Project pada tahun 90'-an, dan sekarang Paranormal Activity atau [REC] mencoba melakukan hal yang serupa. Kali ini J.J. Abrahams memproduksi film bergaya mockumentary tentang monster yang menyerang Manhattan berjudul Cloverfield. Film ini diceritakan melalui sudut pandang hand-held kamera yang dipegang salah satu karakter dan diklaim sebagai properti pemerintahan Amerika Serikat.

Ketika sedang merayakan pelepasan Rob Hawkins (Stahl-David) ke Jepang di apartemennya, sebuah gempa kecil terjadi, membuat orang-orang yang berada di pesta dilanda kepanikan. Ketika mereka keluar dari gedung, kepala patung Liberty jatuh di jalan raya. Kelompok kita, Rob Hawkins, Lily (Lucas), Hud (Miller), Marlena (Caplan) dan saudaranya Rob; Jason (Vogel) bukannya ikut masuk dalam evakuasi, tapi melakukan perjalanan bersama untuk menjemput kekasih Rob; Beth (Yustman) yang terjebak di gedung apartemennya sementara serangan monster dan pasukan militer terus terjadi.

Salah satu hal terbaik dari Cloverfield adalah kesuksesannya membuat apa yang terjadi dalam kamera terlihat begitu riil. Membuat penonton dengan mudah masuk ke dalam cerita dan ikut mengalami apa yang mereka rasakan. Hud, sebagai karakter pemegang kamera, tak hanya lucu namun juga mampu membuat kita percaya akan ketakutan dan kengeriannya di sepanjang film. Dengan komentar-komentarnya yang kocak, dia dengan cepat tumbuh menjadi salah satu karakter yang pasti difavoritkan.

Begitu juga karakter-karakter fiksional lainnya seperti Lily, Marlena, dan Rob. Mereka melakukan improvisasi yang baik dan menunjukkan akting yang mumpuni. Pada awalnya gua takut gua nggak akan bisa bersimpatetik sama karakter-karakter di sini. Tetapi ternyata gua salah. Karakternya bisa kita relasikan, walaupun nggak ada latar belakang yang ditunjukkan. 20 menit pertama sengaja dibuat murni bersih dari monster, hanya adegan pesta di mana penonton diperkenalkan pada karakternya satu persatu secara mulus dan baik.

Setelah itu kita disuguhi adegan aksi dan thrill yang nyata. Tank militer dan penembakan, juga serangkaian serangan monster yang tak kunjung berhenti. Semuanya dipersembahkan pada penonton dalam pacing yang baik, membuat kita tetap pada tempat duduk, terus menonton kengerian yang berlangsung pada kamera, dan ikut merasakannya seolah yang terjadi memang benar-benar nyata dan bukan rekayasa belaka.

Bagian terbaik lainnya dari Cloverfield adalah marketing-nya yang menumbuhkan hype dan penantian panjang dari orang-orang. Dan jangan takut, ada banyak yang iklan-iklan jitu itu tidak tampilkan dalam film. Banyak shot dari monster terlihat, yang pada mulanya gua nggak kira bakal ada, dan yep, kita ngeliat dia bener-bener di-close-up nanti. Efek CGI dari monster itu sendiri tidak terlalu buruk, walaupun sedikit terlihat terlalu bersih dan licin.

Cloverfield juga sukses menunjukkan kita pada kisahnya dan membuat penonton mau mengikuti perjalanan kelompok kita dengan mengkhawatirkan keselamatan mereka. Dan gambar kamera yang bergoyang-goyang juga tidak terlalu mengganggu meskipun mungkin bisa membuat beberapa orang lain yang tak tahan dengan genre ini menjadi migren. Mungkin kekurangannya adalah cara bagaimana Cloverfield diedit. Terkadang dimasuki adegan drama yang klise dan sebenanya tidak terlalu penting. Namun dalam kata akhir, Cloverfield sukses dalam pilihannya memilih gaya found footage, dan mempersembahkan thrill dengan baik.

Kurnia Cahya Putra

A self-proclaimed movie geek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar