Review: The Devil Wears Prada (2006)

Glamor, Itu Saja

oleh Kurnia Cahya Putra


The Devil Wears Prada (2006)
Disutradarai David Frankel
Dibintangi Anne Hathaway, Meryl Streep
Produksi 20th Century Fox


The Devil Wears Prada 
bukanlah film tentang iblis berbalut prada. Tidak, itu hanya kiasan. Melainkan, The Devil Wears Prada adalah film yang diadaptasi dari novel best-seller berjudul sama tentang seorang fresh graduate yang berusaha menghadapi berbagai rintangan dalam pekerjaan barunya. Adalah Andy (Hathaway) yang berhasil mendapatkan posisi magang sebagai asisten kedua ketua editor majalah Runway, majalah mode paling prestisius di Amerika, Miranda Priestly (Streep). Pekerjaan yang dia jadikan batu loncatan ini ternyata tidak semudah yang dia bayangkan karena Miranda ternyata memiliki pribadi yang sangat mengerikan. Dia melempar mantel ketika tiba di kantor, memastikan secup Starbucks selalu tersedia dalam makan siangnya, memesan stik dalam waktu 15 menit yang pada akhirnya tidak dia sentuh sama sekali, serta meminta manuskrip Harry Potter yang belum terbit untuk putri kembarnya. Andy, yang hampir mencapai titik breaking point, hampir saja menyerah. Namun, seorang ibu peri dalam bentuk rekan kerjanya Miranda, Nigel (Tucci), membantunya dan merombaknya dari ujung rambut hingga jempol kaki. Menjadikannya sosok baru dari segi penampilan sehingga pola pikirnya pun turut berubah, dan dia mampu menangani segala hal yang Miranda lemparkan kepadanya. Yang Andy tak ketahui, dengan sosok barunya, ternyata dia juga mulai kehilangan siapa dirinya beserta tujuan hidupnya sesungguhnya.

Film ini bisa menjadi film chick-flick standar yang mudah dilupakan, tetapi untung saja, film ini memiliki Meryl Streep. Dengan nada suara yang sangat tenang dan mata yang penuh kehidupan, Streep justru mampu menyajikan rasa pedas dalam setiap katanya dan tusukan tajam dalam setiap lirikannya. Timing juga menjadi senjatanya yang paling ampuh. She never missed a single beat. Semua line disampaikan dengan perhitungan yang presisi dan tetap terlihat efortless. Tak cuma itu, dia juga memberikan lapisan yang cukup kepada Miranda yang sesekali muncul dalam berbagai adegan, seperti ketika dia tak sengaja bercurah hati kepada Andy setelah suaminya yang kesekian meminta cerai atau ketika dia memberitahu Andy bahwa mereka berada di puncak dunia ketika mengobrol di dalam mobil pada akhir cerita. Nominasi Oscar yang dia dapatkan dalam peran ini adalah salah satu nominasinya yang paling pantas apabila dibandingkan dengan... let's say tokohnya dalam August: Osage County.

Hathaway memberikan performa yang cukup solid untuk menjangkar filmnya, meskipun tak ada yang benar-benar istimewa dari apa yang dia bawakan. Dia menangis ketika harus menangis, ceroboh ketika harus ceroboh, dan seterusnya. Hathaway bekerja sebagaimana Hathaway dalam film-film sejenis ini (i.e. Bride Wars). Akan tetapi, bisa diakui juga bahwa setelah Princess Diaries, dia memang sungguh kandidat sempurna untuk jenis tokoh culun yang dimakover menjadi glamor. Montage-nya berjalan-jalan di NY dengan berbagai perubahan setelan setelah dirombak Nigel menjadi bekerja karena penampilannya yang pas. Jajaran pemain lainnya seperti Blunt dan Tucci cukup mampu mencuri adegan-adegan mereka. Blunt, in particular, sungguh jenaka sebagai asisten pertama Miranda, Emily. Tokohnya yang over-the-top tidak jatuh menjadi kartun dan dapat dipercayai sehingga setiap lelucon yang diberikannya selalu tepat sasaran. Tucci juga mampu memberikan lapisan subtil dalam tokohnya, seperti ketika dia sambil lalu bercerita tentang masa kecilnya yang berpura-pura pergi bermain bola ketika membawa majalah Vogue dalam kegelapan kamar kepada Andy.

The Devil Wears Prada suffers dalam sisi cerita. Ketika Andy semakin tenggelam dalam dunia mode dan kehilangan jati dirinya, dia juga kehilangan teman-temannya dan pacarnya. Para penonton seharusnya mampu melihat bagaimana Andy pantas mendapatkan itu, bagaimana keluhan teman-teman serta pacarnya memang pantas disampaikan kepadanya. Namun, yang terjadi adalah penonton merasa kesal dengan mereka karena yang terlihat hanyalah Andy yang sesungguhnya melakukan apa yang dia harus lakukan, dan dia melakukannya dengan baik. Teman dan pacar macam apa yang tidak mendukung ketika seseorang melakukan pekerjaannya dengan baik? Dari mana juga mengubah penampilan berarti mengubah kepribadian secara menyeluruh? Secara pribadi, saya lebih mendukung apabila di akhir cerita Andy tidak kembali ke pacarnya dan sungguh fokus pada karier menulisnya setelah dari Runway.

Secara keseluruhan, saya rasa yang tidak sungguh menyukai dunia mode takkan menikmati The Devil Wears Prada karena dari semuanya, itu adalah hal utama yang film ini berhasil taklukan. Tak dapat dipungkiri bahwa fashionista di luar sana akan terhibur dengan penglihatan lebih dalam ke bagaimana mode bekerja serta tambahan taburan gemerlap busana desainer, Paris, dan pesta glamornya. Untuk moviegoers biasa, Anda mungkin bisa datang untuk Meryl Streep dan guyonan Emily Blunt. 6/10.

Kurnia Cahya Putra

A self-proclaimed movie geek.

2 komentar:

  1. kenapa cuma 6 bintangnya ? kan bagus suka banget sama film ini bgt!

    BalasHapus
  2. film ini kapan ditayangkan di televisi indonesia?

    BalasHapus