Review: The Devil Wears Prada (2006)

The Devil Wears Prada (2006)
Disutradarai David Frankel
Dibintangi Anne Hathaway, Meryl Streep
Produksi 20th Century Fox


The Devil Wears Prada dibuat berdasarkan novel dengan judul sama karya Lauren Weisberger yang telah dipublikasikan di 27 negara dan tergabung dalam daftar New York best-seller selama enam bulan berturut-turut. Film ini tidak mengisahkan tentang iblis yang berjalan-jalan dalam balutan Prada, itu hanya kiasan belaka. Melainkan flm ini mengisahkan tentang seorang gadis dalam kesulitannya menghadapi pekerjaan yang ia lakukan.

Andrea (Anne Hathaway) atau biasa dipanggil Andy, merupakan seorang lulusan baru dari Universitas Northwestern yang bercita-cita menjadi seorang penulis. Ia mendapat pekerjaan yang setiap wanita rela mati untuk dapatkan (sebuah frasa yang kerap diulang-ulang sepanjang film) yaitu menjadi asisten seorang Miranda Priestly (Meryl Streep). Ketua editor majalah Runway, majalah fashion kelas tinggi di New York.

Miranda adalah seorang yang congkak dan angkuh, ia datang ke kantor dan melempar mantelnya pada asistennya, meminta dengan nada bicara bertempo sangat cepat walaupun artikulasi tepat, di saat yang bersamaan bisa menekan orang-orang di sekitarnya dengan nada bicaranya yang lembut nan tenang. Ia meminta kopi Sturbucks ada di mejanya tiap makan siang, steak disiapkan dalam 15 menit dan pada akhirnya tidak memakannya sama sekali, buku diantarkan ke rumahnya, dan salinan kopi dari Harry Potter dalam tiga jam untuk kedua putri kembarnya, dan bukan hanya salinan, sebuah manuskrip yang belum dipublikasikan.

Emily (Emily Blunt), asisten pertama Miranda yang histerikal dan mencoba terlalu keras untuk membaur di dunia fashion telah memperingatkan Andrea tentang betapa susahnya pekerjaan yang ia dapatkan. Dan itu terbukti menjadi kenyataan ketika Andy dipandang sebelah mata dan membuat Miranda tersinggung dengan pilihan busananya yang buruk ke tempat kerjanya yang notabennya sebuah majalah fashion, Miranda pula menilai pekerjaannya tidak becus. Merasa tidak tahan lagi, Andy meminta bantuan Nigel (Stanley Tucci) untuk merombaknya menjadi gadis yang baru dan mampu mengesankan Miranda. Tapi tanpa Andy ketahui, seraya ia menjadi gadis yang mulai memuaskan Miranda, ia juga menjadi gadis yang tak dikenal oleh teman-teman dan pacarnya, seseorang yang bukan dirinya sendiri.

Gua nggak tau sama sekali soal fashion, dan gua gak terlalu punya ekspektasi waktu nonton film ini. Gua suka Anne Hathaway di Ella, Enchanted sama Brokeback Mountain dan Meryl Streep selalu bikin gua kagum di tiap film yang dia peranin. Dan yang ini nggak jauh beda, Meryl Streep berhasil bikin mata gua terbelalak dan mulut gua ternganga lebar. Dia dengan sempurna meleleh dalam karakter Miranda. Dengan cara bicaranya yang sangat menusuk namun begitu lembut dan tenang, dengan pandangan matanya yang tajam dan mengintimidasi, dengan gesturnya yang congkak dan angkuh. Sebuah nominasi Oscar nampak malah menjadi seperti hinaan, ia berhak mendapatkan lebih.

Lalu ada Anne Hathaway yang memerankan tokoh utama kita, seorang gadis pekerja keras, Andrea. Tak ada yang spektakuler maupun patut dibangga-banggakan lewat Anne, dan ia juga terlihat kesusahan membawa film ini bersamanya. Walau begitu ia terlihat luar biasa dalam balutan pakaian yang ia harus kenakan. Di lain pihak, Emily Blunt dan Stanley Tucci memainkan peran mereka dengan sangat baik. Dalam beberapa adegan mereka dengan mudah bisa mencuri perhatian dari Anne Hathaway yang memerankan tokoh utama.

Skrip yang ditulis di sini kadangkala mudah diprediksi. Tapi ceritanya berjalan dengan baik dan gak bikin gua bosen. Dialog-dialog yang disuguhkan sangat bagus, terutama dari karakter Miranda. Gua nggak bisa ngomong yang lain lagi karena kayak yang gua bilang, gua gak ngerti fashion dan tetek bengeknya sama sekali. Tapi gua cukup mendapatkan waktu yang menyenangkan pas nonton ini. Dilabelkan sebagai komedi dan drama, tak ada momen yang benar-benar menyentuh di The Devil Wears Prada, seluruh film cuma perjalanan yang lumayan asyik dan nggak bener-bener ngebosenin. Kalau mau, tonton ini untuk Meryl Streep. That's all. 8/10.

Kurnia Cahya Putra

A self-proclaimed movie geek.

2 komentar:

  1. kenapa cuma 6 bintangnya ? kan bagus suka banget sama film ini bgt!

    BalasHapus
  2. film ini kapan ditayangkan di televisi indonesia?

    BalasHapus