Review: My Soul to Take (2011)

My Soul to Take (2011)
Disutradarai Wes Craven
Dibintangi Max Theriot, Emily Meade, John Magaro
Produksi Rogue Pictures

"Pray for our souls, Bug. He's coming." -Penelope


Wes Craven merupakan salah satu sutradara yang sangat berdedikasi di genre horor. Ia menelurkan salah satu ikon terbesar, Freddy Krueger lewat A Nightmare on Elm Street dan menyutradarai puluhan film horor berkualitas seperti quadrologi Scream, Red Eye, The Hills Have Eyes atau The Last House on the Left. Sudah lima tahun semenjak dia mengerjakan film terakhirnya yang dibintangi dengan apik oleh Rachel McAdams dan Cillian Murphy, Red Eye, dan sudah 15 tahun lamanya ia tidak menulis skrip untuk filmnya, jadi ketika ia kembali dengan My Soul to Take, tentu semua orang bersemangat.

Nggak lain sama gua, yang suka banget A Nightmare on Elm Street sama keempat film Scream, gua nonton ini dengan ekspektasi karena pria di balik film ini adalah legenda horor, Wes Craven. My Soul to Take dimulai dengan seorang laki-laki yang memiliki kepribadian ganda, Abel Plenkov. Ia membunuh istrinya yang sedang hamil dan hampir membunuh putrinya sebelum akhirnya polisi menangkap dan membawanya ke rumah sakit. Di ambulans, arwah kepribadian gandanya yang menjadi pembunuh berantai kota, Riverton Ripper kembali merasukinya dan mencelakai orang-orang yang ada di sana. Ia berhasil lolos dan mayatnya belum pernah ditemukan. Tepat pada malam itu juga, tujuh orang bayi lahir.

16 tahun kemudian, sebuah perayaan dilakukan untuk mengenang arwah Riverton Ripper sekaligus ulangtahun ketujuh anak yang lahir pada waktu itu. Mereka disebut Riverton Seven; remaja tertutup, Bug (Max Theriot), sahabatnya, Alex (John Magaro), gadis populer sekolah, Brittany (Paulina Olszynski), remaja buta, Jerome (Denzel Whitaker), gadis alim, Penelope (Zena Gray), atlit sombong sekolah Brandon (Nick Lashaway), dan karakter token Asia, Jay (Jeremy Chu). Setelah Bug gagal melakukan ritual yang harus dilakukan pada perayaan, polisi datang membubarkan pesta. Jay dibunuh pada jalan pulangnya, dan ketujuh anak itu menemukan diri mereka dalam bahaya pada pagi harinya.

Kalau mau blak-blakan gua kecewa sama film ini. Terutama karena yang buat Wes Craven, orang yang 40 tahunan berpengalaman dalam film, belum lagi, gua penggemarnya. My Soul to Take dimulai kuat banget, punya bagian tengah yang biasa, tapi akhir yang buruk. Cerita dan idenya bagus, tapi cara pengeksekusiannya buat gua buruk banget. Skrip yang ditulis Oom Wes berlibet banget dan bikin gua susah ngikutin ceritanya yang padahal bisa dikisahkan dengan jauh lebih sederhana.

Dialog yang disajikan juga jelek dan nggak mirip sama cara ngomong remaja jaman sekarang. Tapi untungnya Max Theriot yang memerankan tokoh utama nggak buruk-buruk banget nyampeinnya. Aktingnya sebagai remaja yang lugu dan ingin tahu cukup memuaskan, begitu juga sama Emily Meade yang meranin kakaknya, Fang, gadis 19 tahun yang masih SMA dan marah sama siapa aja yang berada di sekelilingnya. Dalam keseluruhan, hal bagus dari My Soul to Take adalah pemilihan aktornya, karena remaja di sini emang keliatan kayak remaja (nggak kayak anak 20 tahunan pura-pura jadi anak SMA di film Scream atau serial TV lain kayak Gossip Girl) dan mereka berakting dengan cukup baik.

Sayang performa itu nggak didukung sama cerita yang berantakan banget dan berasa acak-acakan di mana-mana. Craven menyampaikan kisahnya dengan cara yang ngebingungin dan bikin resolusi yang nggak koheren. Aksinya maksa, dan alurnya aneh. Ditambah sama buruknya adegan-adegan di film ini diedit, ada satu momen di bagian final yang bikin gua bete dan ngeluh karena caranya diedit itu bikin filmya terkesan murah. Komposisi musik dari Marco Beltrami pun nggak ada yang memorable. Semua itu bikin gua berujar sayang banget, karena sebenernya film ini punya potensi untuk jadi bagus.

Sebenernya film ini menurut gua nggak seburuk yang orang-orang bilang, tetapi dalam suatu batas masih bikin gua kecewa. Craven juga pernah bikin satu film yang dicaci maki kritik dengan judul Cursed yang dibintangi Christina Ricci dan cowok yang dari The Social Network. Film itu asik banget dan sebuah guilty pleasure buat gua, begitu juga sama film ini. Untung aja ada Scream 4, film lain dari Craven yang keluar tahun ini yang nggak ngecewain gua sama sekali. Gua berharap aja semoga Craven kembali sama film-film berkualitas sepadan Scream dan A Nightmare on Elm Street suatu saat nanti. 5/10.

Kurnia Cahya Putra

A self-proclaimed movie geek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar