Review: The Texas Chainsaw Massacre (2003)

Gritty and Ordinary

oleh Kurnia Cahya Putra


The Texas Chainsaw Massacre (2003)
Disutradari Marcus Nispel
Dibintangi Jessica Biel, Jonathan Tucker, Andrew Bryniarski
Produksi New Line Cinema

"The film which you are about to see is an account of the tragedy which befell a group of 5 youths..." -Narrator


Pada 18 Agustus, 1973, sehari setelah perayaan hari kemerdekaan, lima anak muda, Erin (Biel), Morgan (Tucker), Pepper (Erica Leerhsen), Andy (Mike Vogel), dan Kemper (Eric Balfour) sedang mengendarai van mereka di sepanjang jalan Texas ketika mereka hampir menyerempet seorang gadis yang katatonik. Mereka memutuskan untuk mengantarnya, ke mana pun dia perlu diantar. Penampilannya amat kotor, dengan bercak-bercak darah menempel di betisnya. Seraya mobil terus melaju, dia bergumam mereka mengambil jalan yang salah, dan setelah menangis histeris, dia mengeluarkan pistol dari bawah roknya dan menembak kepalanya sendiri hingga isi otaknya bertebaran ke mana-mana. Seluruh penumpang van pun menjerit dan melompat keluar. Terguncang melihat aksi bunuh diri di depan mata kepala mereka sendiri, kelima remaja itu memutuskan untuk meminta bantuan dari penduduk sekitar, namun ada yang janggal ketika tak ada satu pun orang yang memberikan mereka respon positif, dan keadaan bertambah aneh ketika mereka mengetuk pintu sebuah rumah besar yang sudah reyot. Sedikit dari yang mereka tahu, mereka menjadi mangsa selanjutnya dari salah satu anggota keluarga rumah tersebut, yaitu seorang maniak pembawa gergaji mesin yang memakai kulit manusia sebagai topeng bagi wajahnya yang cacat.

The Texas Chain Saw Massacre merupakan film yang dipuji-puji kengeriannya ketika rilis pertama kali di tahun 1974 hingga sampai pada masa kini. Puluhan tahun setelahnya, bapak remake dan produser Michael Bay (Transformers, The Island) memutuskan untuk mendaur ulang dan memberinya sentuhan baru yang segar. The Texas Chainsaw Massacre (TCM) kembali masuk ke layar lebar pada tahun 2003 dengan membawa Jessica Biel sebagai final girl-nya. Dengan tone yang lebih gritty, tapi tidak necessarily lebih seram, film ini ternyata menjadi keluaran yang sangat... biasa.

Tak seperti film yang asli yang kesannya belum pernah dibuat di mana pun sebelumnya dengan nuansa Texas yang teriknya sampai merayap keluar layar dan membuat penontonnya ingin mandi, tidak ada hal yang unik dalam TCM yang baru ini sehingga bahkan mengomentarinya menjadi sulit karena tidak ada aspek yang kurang atau lebih di dalamnya. Semuanya biasa. Adegan sadisnya? Tak ada. Semuanya off-screen. Sebenarnya TCM yang lama juga begitu, adegan-adegan sadisnya hanya implikasi, tapi gara-gara penyutradaraan Tobe Hooper yang piawai, begitu selesai menonton, kita malah jadi merasa baru saja menonton film tertidakmanusiawi sedunia. Sebenarnya bukan hal yang buruk juga takaran gore yang minim ini, tapi, ya itu tadi, semuanya jadi biasa.

Sinematografinya bagus, itu saya akui. Palet coklat yang mem-filter keseluruhan film memberikan nuansa yang cukup pas. Aura jorok dan kotornya pun cukup terasa, meskipun seperti yang saya bilang, tidak sampai ingin membuat mandi seperti film aslinya. Jessica Biel juga nilai plus lainnya di film ini. Dia memberikan performa yang lebih dari cukup untuk sebuah film slasher. Erin adalah tokoh yang amat kita dukung hingga akhir film, dan ekspresi ketakutan dan jeritannya Biel benar-benar menjual adegan-adegan di mana dia dikejar-kejar Leatherface. All in all it was a very ordinary final product, which I guess would entertain you if you've got nothing going on in your life. I'll say that it's probably the best remakes of the 70s, 80s horrors, which is quite depressing when I think about it again. 6/10.

Kurnia Cahya Putra

A self-proclaimed movie geek.

2 komentar:

  1. Iya gan.. bagus filem ni.. daripada film horor barat sekarang.. kalo gua suka film lawas kyk gini..

    BalasHapus