Review: Final Destination 5 (2011)

Comeback Luar Biasa dari Seri-nya

oleh Kurnia Cahya Putra


Final Destination 5 (2011)
Disutradarai Steven Quale
Produksi New Line Cinema

"Death... doesn't like to be cheated." -William Buldworth


Seri Final Destination adalah salah satu seri yang paling menguntungkan belakangan ini selain Saw. Di tahun 2009 lalu, kita diberikan bagian 'akhir' dari kisah tersebut dengan judul The Final Destination. Setelah meraup keuntungan banyak, produser pun pada akhirnya menyetujui juga naskah yang ditulis oleh Eric Heisserer dan memberi lampu hijau untuk Final Destination 5 demi memeras keuntungan lebih banyak lagi. Steven Quale, yang pernah berkerja di film Avatar bersama James Cameron sebelumnya, ditunjuk untuk duduk di kursi sutradara--mungkin karena pengalamannya menangani 3D. Walaupun dibuat demi keuntungan semata, Final Destination 5 mendapat respon yang positif dari para kritikus yang menyebutnya sebagai entry terbaik dalam serinya.

Film ini mengisahkan Sam (D'Agosto) yang sedang mengikuti retret bisnis bersama rekan sejawatnya seperti Molly (Bell), Peter (Fischer), Nate (Escarpeta), Olivia, Candice, Isaac, dan Dennis. Ketika berada di dalam bus yang melewati sebuah jembatan yang masih dalam masa konstruksi, Sam mendapat penglihatan tentang bencana yang menewaskan hampir seluruh orang di dalam busnya. Dia pun memperingatkan teman-temannya dan berhasil menarik beberapa keluar dari bus. Dan tentu saja, seperti dalam penglihatannya, bus itu ikut jatuh ketika jembatan tersebut runtuh. Semenjak saat itu, satu persatu dari mereka yang seharusnya tewas di runtuhan tersebut dikejar-kejar oleh 'kematian'.

Bagi saya, para kritikus benar, film kelima dari seri ini memang salah satu entry yang terbaik--bahkan sebanding dengan yang kedua atau yang pertama. Di adegan pembuka, kita diperkenalkan dengan tokoh-tokoh yang akan bersama kita sepanjang film ini satu persatu, membuat kita tenggelam dalam kisah mereka sehingga kita mampu memedulikan mereka ketika waktu kematian mereka tiba. Pada akhirnya, setelah film kedua, film ini akhirnya memiliki sesuatu yang disebut character development (bukan berarti yang ketiga tidak bagus, karena di yang ketiga, saya rasa penggambaran tokohnya yang mengikuti karakter stok-stok adalah satir yang--menurut saya pribadi--sukses, kalau yang keempat memang buruk, tak ada alasan lain). Selamat!

Lalu datanglah adegan kecelakaan di atas jembatan tersebut. Jalan-jalan retak dan runtuh, tali penyangga putus, dan tiang berjatuhan, efek 3D di film ini adalah efek terbaik yang pernah saya saksikan di dalam bioskop. Kita dibawa masuk ke adegan kecelakaan tersebut, seakan-akan mengalaminya secara langsung, dan tak ada benda-benda yang secara menyebalkan dan gamblang ditonjolkan ke kamera sehingga distracting--semuanya terasa natural. Kedalaman gambar juga terlihat--siapa yang berdiri dekat, siapa yang berdiri jauh--semua furnitur dan benda-benda timbul dalam ukuran yang pas. Film ini, saya katakan, merupakan salah satu contoh bagaimana 3D dapat digunakan dengan benar-benar baik dan bahkan mengembangkan produk.

Tak hanya itu, film ini juga sungguh memiliki plot, sesuatu yang juga hilang setelah film kedua. Kali ini, untuk mencurangi kematian, spoiler alert, kita harus membunuh seseorang untuk mengambil sisa hidupnya. Menariknya, plot ini bertolak belakang dengan bagaimana cara mencurangi kematian di film kedua, yaitu dengan membuat sebuah kehidupan baru. Ada pula twist ending tak terprediksi yang cerdas dan akan membuat terkejut. Itu sendiri telah menggaransi film ini menjadi salah satu yang terbaik dalam serinya.

Adegan-adegan kematian di film ini mungkin tak sesadis di film yang kedua atau ketiga, tetapi tidak cukup buruk hingga mengecewakan penggemar gore di luar sana. Yang terbaik dari bagaimana adegan-adegan ini dieksekusi adalah penyutradaraannya Steven Quale sendiri. Kamera menyorot berbagai macam benda yang bisa menjadi penyebab utama kematian, kemudian menggoda kita dengan membuat para tokoh berkontak langsung dengan mereka. Saya jadi geregetan dan bertanya-tanya bagaimana semuanya akan terungkap. Build-up-nya sugguh amat sangat kuat. Sayang, tak semua build-up itu mampu diakhiri dengan adegan kematian yang juga kuat. Walaupun, saya akui, ada salah satu kematian di film ini yang sejajar dengan kematian-kematian terbaik lainnya di seri ini.

Para aktor yang dipilih kebanyakan wajah-wajah baru yang belum dikenal. Pahlawan kita, Nicholas D'Agosto memberikan performa yang tidak terlalu kuat di awal, namun membaik di pertengahan dan akhir. Akting Emma Bell tidak sebagus aktingnya di film Frozen yang membuat saya kagum. Sedangkan Miles Fischer belum cukup baik menunjukkan karakternya yang depresi dan, spoiler alert, kian lama menjadi psikopat yang obsesif. Yang mencuri perhatian saya adalah Jacqueline MacInnes Wood yang memerankan Olivia. Bertolak belakang dengan pakaiannya di sepanjang film, ada layer yang cukup banyak dalam aktingnya.

Pada akhirnya, Final Destination 5 memberikan napas baru ke seri yang hampir mati ini. Dengan cerita yang bagus dan penyutradaraan yang kuat, film ini menjadi salah satu yang terbaik dalam serinya.

Kurnia Cahya Putra

A self-proclaimed movie geek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar