Review: The Ring (2002)

Harusnya Konyol, Ternyata Kokoh

oleh Kurnia Cahya Putra


The Ring (2002)
Disutradarai Gore Verbinski
Dibintangi Naomi Watts, Martin Henderson, Brian Cox
Produksi DreamWorks SKG

"Seven days." -Samara Morgan

Sewaktu saya kecil, saya bertemu tatap dengan sebuah artikel di majalah remaja yang membahas film ini dan Ringu, film Jepang yang diadaptasinya. Premis dari kedua film tersebut mencuri lebih dari sekedar atensi saya. Konon terdapat sebuah video, yang jika kau tonton, teleponmu akan berdering dan suara di ujung sana akan menyebutkan, "Tujuh hari," memperingatkanmu akan sisa waktumu karena kau telah terkena kutuk. Bukankah itu luar biasa orisinil, modern, dan on top of all that, seram? Semacam legenda urban yang biasanya disebarkan oleh anak muda sewaktu nongkrong di angkringan atau ketika dosen belum datang (tentunya pada saat itu saya belum mengenali kedua konsep itu karena masih SD). Saya pun menabung dan membeli VCD-nya di Disctarra Mall Cinere (ah, masa kecil...) dan begitu saya menontonnya, saya langsung mematikan player-nya setelah adegan pembukanya selesai dan meminta ibu saya menukar VCD tersebut. Ya, The Ring messed my-elementary-school-self pretty bad. Tentu saja, ibu saya menuruti keinginan saya dan membawa pulang VCD Pingu keesokan harinya.

The Ring berpusat pada Rachel (Watts), reporter koran lokal sekaligus single mom yang menyelidiki legenda urban tersebut setelah keponakannya digosipkan meninggal karenanya oleh teman-teman SMA-nya. Dia melacaknya hingga ke Shelter Mountain Inn., sebuah penginapan di mana dia menemukan kaset VHS biang keladinya dan menyetelnya ketika matahari terbenam. Tentu saja, segera setelah gambar terakhir di video--sebuah sumur di tengah-tengah hutan--menghilang dan terganti dengan statik, telepon pun berdering dan suara di ujung saja menyebutkan sisa waktunya. Mulai paranoid, Rachel meminta bantuan si skeptis Noah (Henderson), mantan suaminya yang merupakan pakar video, dan meneliti every single frame dalam video tersebut bersamanya untuk membongkar misteri di baliknya sekaligus menyelamatkan dirinya sebelum waktunya habis.

Ketika saya bilang saya ketakutan padahal baru adegan pembuka, saya tidak bercanda. The Ring luar biasa beratmosfer. Saya sendiri tak tahu secara teknis apa resepnya. Mungkin sinematografinya, blue tint-nya yang menyelimuti setiap frame (look yang selalu saya ingin tiru di karya-karya saya tapi tentu saja gagal dan gagal lagi karena ketika tokoh-tokoh Anda tergelimang silaunya sinar matahari Depok, blue tint menjadi sedikit tidak natural) dan berhasil memberikan nuansa kelam sekaligus indah. Mungkin penyutradaraannya Gore Verbinski dengan setiap pilihannya yang terkalkulasi sehingga atmosfer tersebut selalu terjaga dan tak pernah turun. Apa pun itu, The Ring merupakan sajian yang berhasil mencapai tujuannya sebagai sebuah film horor: menakuti.

Dibawa dengan pace yang tepat, The Ring memiliki misteri yang menggugah, yang menarik penonton ke dalam film lebih dalam dan dalam seraya lapisan demi lapisannya diiris seperti bawang. Lalu begitu segalanya terungkap, begitu segalanya sepertinya baik-baik saja, The Ring memberikan akhir cerita yang gut-punching, yang membuat mulut termegap karena keefektifannya. Ya, akan sulit rasanya membicarakan The Ring tanpa menyebutkan adegan akhirnya, yaitu ketika--spoiler alert--Samara merangkak keluar dari TV dan membunuh unsuspecting Noah. Momen tersebut, bagi siapa saja yang tak tahu menahu, akan benar-benar menangkap tanpa peringatan, dan takkan pernah meninggalkan mereka bahkan setelah keluar dari studio bioskop sekali pun.

Naomi Watts, dalam perannya sebagai Rachel, menyajikan performa yang sedikit terlalu besar. Amat berbeda dengan versi Jepangnya yang dimainkan Nanako Matsushima secara kalem. Naomi lebih memilih untuk menampilkan emosi-emosi wah, emosi teatrikal, yang mungkin tidak sama efektifnya, namun tetap mampu menjangkar filmnya. Martin Henderson, sebagai mantan pacarnya yang slacker-ish, memiliki karisma yang cukup kuat (meskipun tak dapat dipungkiri bahwa tokoh Ryuji di versi Jepang-nya memiliki presensi layar yang lebih besar), sementara anak mereka yang diperankan David Dorfman memiliki kedewasaan yang membuat tokohnya lumayan creepy.

Karena The Ring merupakan film daur ulang, akan adil apabila dibandingkan dengan versi Jepang-nya, Ringu. Perihal teknis, tentu saja film ini superior. Sinematografi yang lebih unik, editing yang lebih ketat, dan spesial efek yang lebih modern. Namun, dalam urusan lainnya, Ringu tetap masih lebih unggul. Hideo Nakata memberikan sentuhan yang lebih sabar dalam pembangunan menuju adegan akhir sehingga pay-off di mana Samara/Sadako merangkak keluar dari televisi terasa lebih rewarding. Dia lebih cakap dari Verbinski dalam menghadirkan suasana tidak nyaman di sepanjang film, dan ini juga terlihat dengan minimnya adegan 'boo' untuk menjaga penonton tetap di was-was di kursi. Berbeda dengan The Ring yang lebih memanfaatkan adegan berjenis seperti itu untuk meresahkan penonton (i.e. "I saw her face...", cue loud music and jump cut to a scary image)--meskipun patut diakui, adegan-adegan tersebut juga masih efektif di sini.

Ringu juga tidak takut dengan level kecerdasan penonton sehingga merasa perlu untuk mengeja segalanya secara gamblang. Mari kita kembali ke adegan akhir. Secara visual mungkin versi yang Amerika lebih kompleks (Samara berpendar-pendar seperti masih di dalam layar TV, CGI makeup menempel tebal, dsb), tapi hal itu justru mengurangi keefektifan adegan karena menjauhkan penonton dari cerita. Dalam versi Jepang, latarnya ada di ruang tengah biasa sebuah rumah, dan Sadako didandani dengan biasa; gaun putih dan rambut panjang seperti yang kita bisa temui di dunia nyata. Ini menjadi jauh lebih mengena karena lebih relatable kepada penonton.

Secara keseluruhan, The Ring adalah daur ulang yang berhasil. Film ini, apabila melihat film-film daur ulang lainnya juga premis yang sesungguhnya cheesy, seharusnya berakhir konyol. Namun, dengan talenta Gore Verbinski yang sungguh seorang sutradara 'visual', performa tanpa ironi para aktornya, misteri yang menggugah, membuat film ini patut dianggap serius dan ketika dianggap serius, berhasil menyajikan tontonan seram yang berbobot. 8/10.

Kurnia Cahya Putra

A self-proclaimed movie geek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar