Review: Silver Linings Playbook (2011)

Memahami Silver Linings Playbook

oleh Kurnia Cahya Putra


Silver Linings Playbook (2012)
Sutradara & Penulis David O. Russell
Pemain Jennifer Lawrence, Bradley Cooper, dan Robert DeNiro
Produksi The Weinstein Company


Ketika saya menonton Silver Linings Playbook pertama kali pada tahun, entah 2012 atau 2013--mungkin 2013 karena sepertinya saya sudah kuliah, dan saya menontonnya di DVD--saya tidak sepenuhnya mengerti. Perlu dicatat bahwa bukan, ini bukan film dengan plot yang rumit atau berlapis-lapis seperti Memento atau Inception; atau film minim eksposisi tapi kaya visual seperti 2001: A Space Odyssey atau The Tree of Life. Ini adalah film komedi-romantis. Pria bertemu wanita, dua-duanya jatuh cinta, ada rintangan, mereka menanggulanginya, dan akhirnya hidup bahagia selamanya. Lalu mengapa saya tidak mengerti? Mungkin sebagian karena hype-nya. Pujian dari sana-sini yang kesannya begitu murah dilemparkan orang-orang, baik kepada penyutradaraan David O. Russell atau performa sophomore Jennifer Lawrence yang katanya gemilang (yang saya anggap tidak sebagus itu untuk memenangkannya piala Oscar). Mungkin juga karena saya tidak memiliki background knowledge yang cukup tentang penyakit mental atau American football (dua tema yang paling prominen dalam film ini). Namun yang jelas, sebagai seseorang yang mendasari eksistensinya pada seni perfilman, saya ingin sekali mendapatkan apa yang orang lain dapatkan dari film ini karena jika saya keluar dalam keadaan seperti ini, saya tidak puas sama sekali.

Lompat ke beberapa tahun kemudian, 2017 tepatnya (wow, time does indeed fly), ketika saya kebingungan mau menonton apa di malam Minggu dan keputusan akhirnya jatuh pada film kecil ini setelah quadrologi Alien saya anggap akan lebih enak jika dilahap habis-habisan seharian besoknya. Tanpa saya sangka, pada kesempatan ini, saya menemukan diri saya mampu mengapresiasi film ini seutuhnya. Jadi, apakah pengetahuan saya tentang penyakit mental atau American football sudah bertambah selama empat tahun terakhir? Mungkin sedikit, tapi jika harus disimpulkan, tidak juga. Kalau begitu, apa yang berubah? Jawabannya adalah diri saya. Empat tahun, apalagi dalam masa transisi dari anak-anak ke orang dewasa seperti yang tengah saya alami, adalah masa yang cukup bagi seseorang untuk dapat lebih memahami dunia sekelilingnya--atau lebih tepatnya, sesungguhnya--seraya sisi polosnya terkikis lapis demi lapis oleh pengalaman demi pengalaman yang dihasilkan dari kebebasan dan kemandirian yang baru diperolehnya. Ini proses yang sulit, yang pahit, dan memahami film ini adalah memahami proses tersebut.

Patrick (Cooper) adalah pria 30 tahunan yang baru dibebaskan dari masa rehabilitasi delapan bulannya di sebuah rumah sakit jiwa. Rehabilitasi yang diawali oleh sebuah peristiwa di mana dia memukuli rekan kerjanya hingga sekarat setelah dia menemukannya sedang berselingkuh dengan istrinya di kamar mandi rumahnya. Peristiwa yang akhirnya mengungkap sebuah penyakit mental dalam dirinya yang sebelumnya tak pernah terdiagnosa, bipolar. Kini, Patrick tak sabar untuk kembali berasimilasi dengan masyarakat. Secara fisik, dia jauh lebih sehat kini badannya sudah kekar, dan secara psikis, dia selalu bisa memiliki pandangan positif dan mencari silver linings bahkan di balik awan termendung sekali pun. Film ini menjabarkan bagaimana Patrick menghadapi proses adaptasi tersebut, bagaimana keluarganya berusaha memahami dan menerimanya apa adanya dan bagaimana dia juga menerima mereka balik dengan segala kekurangan yang ada, dan tentu saja, bagaimana dia jatuh cinta dengan seorang janda yang sama, jika tidak lebih gilanya darinya, Tiffanny (Lawrence).

Ketika saya kecil, ada tiga hal yang saya senangi untuk menghabiskan waktu luang: menggambar, bermain komputer (entah mengetik cerita atau melatih inner-psycho dengan mencari pelbagai cara untuk membunuh sim saya dalam The Sims), dan menonton film (Bioskop TransTV atau rental VCD). Saya tidak merasa ada yang salah dengan ini, tapi ternyata, saya salah tentang itu. Saya belajar, dari pengalaman berinteraksi dengan orang lain, bahwa seorang anak lelaki seharusnya bermain di luar rumah, membaur dengan anak lelaki lainnya, dan bersenang-senang dengan bermain sepak bola, Tamiya, Gundam, dan sejenisnya. Bahkan, kedua orangtua saya, dengan segala niatan dan maksud terbaik mereka, pernah secara harfiah mendudukkan saya dan melarang saya agar tidak melulu berdiam di rumah karena saya tidak punya teman. Otak kecil saya pun membentuk konsep bahwa saya berbeda, dan bahwa perbedaan adalah sesuatu yang harus dilawan. Namun, karena naluriah saya memang bukan menggemari olahraga, saya luar biasa kesulitan dan menemukan diri saya tidak sanggup menyanggupi panutan tersebut, dan ini membuat saya merasa salah--sirkuit yang korslet dalam tubuh saya atau apa--sehingga saya pun selalu berusaha menjadi sosok yang lain, yang memiliki keseimbangan antara membuat diri saya tetap bahagia dan di saat yang sama juga membuat orang lain bahagia karena sebagai makhluk sosial, yang saya dan setiap manusia lainnya inginkan adalah diterima dan menjadi bagian dari suatu kelompok agar dapat bersosialisasi di dalamnya.

Maka dari itu, saya sungguh dapat merasakan apa yang Patrick rasakan dalam film ini. Ini dia, seorang pria dengan penyakit yang banyak orang anggap cuma mitos karena tidak memiliki rupa dalam permukaan, berusaha sekeras mungkin untuk bergabung kembali dengan orang-orang di sekitarnya sebagaimana saya berusaha sekeras mungkin untuk bergabung dengan orang-orang di sekitar saya. Berada di luar konsep 'normal' sebagaimana saya merasa berada di luar konsep 'normal'. Bahkan, saya dapat merasakan kesulitannya dalam mengontrol sesuatu dalam dirinya yang memang mustahil dikontrol karena sewaktu kecil, meskipun tidak memiliki penyakit mental yang sama, segala kecemasan yang terbangun dari keseharian saya dalam menjaga orang-orang tetap menyukai saya membuat saya mengidap OCD (Obsessive-Compulsive Disorder), atau secara definisi adalah disorder yang "umum, kronis, dan berjangka panjang di mana seseorang memiliki pemikiran (obsesi) yang tak terkendali dan selalu timbul, juga perilaku (tekanan) untuk melakukan suatu hal berulang-ulang" (NIMH.NIH.gov).

Baiklah, saya bukan psikiater. Saya bisa salah mendiagnosa diri, saya bisa mengidap disorder lain, atau ini bisa saja sugesti belaka dan secara psikis sebenarnya saya selalu sehat wal afiat, namun yang jelas, saya selalu membutuhkan waktu yang lama untuk pulang sekolah karena entah bagaimana, saya selalu memiliki keinginan tak terkontrol untuk menyentuh apa pun yang berada di jalan saya; daun yang jatuh, bungkus makanan ringan, atau apa pun, karena di dalam pikiran saya, entah karena saya takut tidak tergabung dalam suatu kelompok seperti yang saya sudah jabarkan atau apa, saya merasa harus meninggalkan 'jejak' diri saya di dunia ini. Tak hanya itu, selama beberapa tahun saya juga rutin membawa pulang hal-hal yang terkena sentuh oleh saya seperti daun yang jatuh dan bungkus makanan ringan tersebut (Anda bisa menanyakan ibu saya tentang hal ini) karena begitu tersentuh, saya merasa mereka sudah menjadi 'bagian' dari diri saya karena memiliki 'esensi' saya, dan saya tidak bisa meninggalkan sebagian pun dari diri saya karena itu satu-satunya hal yang saya punya. Ibu saya menanyakan alasannya ketika menemukan hal-hal tersebut di tas saya, tetapi pada akhirnya, sepertinya dia berkesimpulan bahwa saya hanyalah anak budiman yang tidak suka melihat sampah dibuang sembarangan. Saya tidak punya alasan yang logis atau masuk akal kenapa saya melakukan apa yang saya lakukan. Percayalah, jika saya bisa tidak melakukannya, saya tidak akan melakukannya, tapi saya tidak bisa. Sama seperti Patrick, kami tidak mengerti mengapa kami begini, dan kami bukannya tidak berusaha untuk mengerti atau untuk memiliki kontrol penuh akan diri kami sendiri, sebaliknya, kami mati-matian berusaha. Bahkan hingga saat ini, ketika saya sudah 'baikan', rutinitas ini masih suka bermunculan. Ketika jogging sendirian di kampus, misalnya, saya harus menginjak setiap daun yang jatuh di track atau menyentuh tiang-tiang marka jalan, atau ketika keluar rumah, saya harus mengelus gagang pintu tiga kali.

Ketika saya pertama kali menonton Silver Linings Playbook, saya belum sepenuhnya memahami aspek dari diri saya yang ini. Lalu, seperti yang saya jabarkan, seraya saya tumbuh, pemahaman itu pun datang dengan sendirinya. Saya belajar, in the hardest way possible, bagaimana saya tidak hidup otentik, dan bagaimana itu membawa pengaruh terburuk. Saya sempat kehilangan a perfectly perfect friend karena saya berusaha menyenangkannya, karena tanpa alasan, saya bertanya apa ada hal salah yang saya lakukan hanya karena saya sedang merasa dia bersikap berbeda kepada saya sehingga dia malah berkesimpulan bahwa saya berpikiran buruk tentangnya. Saya juga sempat menjadi downer yang luar biasa besar bagi teman-teman saya hingga mereka memberi jarak karena hal yang saya prioritaskan dalam hidup, menjadi bagian suatu kelompok, tidak saya rasakan dari mereka. Saya akhirnya memutuskan: sesuatu harus berubah. Saya tidak bisa mengharapkan teman-teman mengerti kondisi saya, dan saya tidak bisa mengharapkan itu terjadi setiap kali saya berkenalan dengan orang baru. Seperti Patrick, saya pun mencoba bangkit, berusaha selalu positif, dan melihat silver linings di balik awan termendung sekali pun, dan saya menemukan bahwa cara paling utama untuk mendapatkannya, untuk hidup genuinely bahagia, adalah hidup sebagai diri saya sendiri. Namun, karena menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk selalu mengikuti keinginan orang lain, 'diri saya sendiri' pun menjadi konsep yang belum terbentuk sehingga saya mencoba hal-hal yang sebelumnya saya tidak coba hanya untuk tahu apakah saya menyukainya atau tidak. Puncak periode ini ditandai dengan platinum blonde. Saya mencat rambut saya, bukan didasari alasan aestetik semata, tetapi juga sebagai simbol pengeluaran diri saya dari belenggu penerimaan orang lain. Apakah ini diri saya? I don't think so, but it's a start.

Lalu saya menonton Silver Linings Playbook, dan tiba-tiba, segalanya menjadi masuk akal. Film ini tidak hanya menyentuh. Film ini adalah sebuah pengalaman. Apabila film lainnya mendekati Anda dari luar, Silver Linings Playbook adalah perwujudan diri Anda. Dialognya, perasaannya, segalanya terasa mentah, terasa nyata. Saya mengidentifikasi diri saya, hidup saya dalam Patrick lebih dari tokoh apa pun di film mana pun. Tentunya, akan lebih mudah untuk menaruh tokoh-tokoh ini dalam kotak-kotak, tetapi bagi Russell yang putranya juga berpenyakit mental, this is not what's real for him. Atas itu, saya berterima kasih kepadanya dan kepiawaiannya dalam memverbalisasi bagaimana rasanya. Melihat bagaimana Patrick melewati salah satu episodenya dengan berteriak-teriak dan mengobrak-abrik kamarnya sementara kedua orangtuanya berusaha menenangkannya membuat saya merasa bersalah sekaligus bersyukur atas kedua orangtua saya dan segala usaha mereka juga untuk memahami (salah satu momen paling membanggakan dalam hidup saya adalah beberapa minggu yang lalu di sebuah pertandingan bola antar-kampung, ketika seorang tetangga bertanya kenapa saya tidak ikut, dan ayah saya tanpa malu sedikit pun menjawab, "Nggak bisa olahraga!") dan put up with every shit I threw at them (because when you've spent all day bottling up your anger to keep people like you, your family's gonna be the one you lash out on). Melihat bagaimana Patrick menemukan Tiffany membuat saya percaya bahwa suatu saat nanti saya juga akan menemukan Tiffany saya. Ketika saya menonton Silver Linings Playbook, saya melihat seorang teman dengan nasib yang sama. Rambut saya mungkin sudah hitam, tapi saya tetap masih berada dalam jalan untuk memahami dan menerima diri saya. Sebuah jalan yang sepertinya takkan pernah berakhir, tetapi kali ini, setidaknya saya tahu bahwa saya tidak sendirian. It's a beautiful film. 9/10.

Kurnia Cahya Putra

A self-proclaimed movie geek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar