Review: Alien: Covenant (2017)

Jangan Berharap Banyak

Oleh Kurnia Cahya Putra

Alien: Covenant (2017)
Sutradara Ridley Scott
Pemain Michael Fassbender, Katherine Waterston, Danny McBride
Produksi 20th Century Fox


Ketika anda akan menonton sebuah film, biasakan untuk tidak memiliki ekspektasi karena ia yang biasanya paling mengkhianati. Alien adalah franchise yang amat saya gemari sejak kecil. Saya hapal betul kisahnya dari film pertama hingga keempat (semua dengan Sigourney Weaver di dalamnya), dan saya mengabaikan Alien vs Predator karena... ya, siapa yang tidak? Salah satu alasan mengapa saya begitu menyukai franchise ini adalah karena bahkan dalam entry yang tidak bagus-bagus amat seperti Alien³ atau Ressurection, saya selalu bisa menemukan sesuatu untuk dinikmati di dalamnya--bahkan di Prometheus, yang dihabisi oleh, tak hanya kritikus, tapi fansnya juga. Peringatan publik terhadap film-film yang "tidak bagus-bagus amat" ini menurunkan ekspektasi sehingga pretensi pun tidak menghantui selama film-film tersebut berjalan. Ini tidak terjadi pada Covenant, yang pada mulanya membuat saya sangat semangat karena beberapa hal: 1.) Pujian para kritikus 2.) Ridley Scott, dan 3.) Kembalinya elemen horor yang sudah hilang dari film pertamanya dilihat dari trailer-nya yang tidak hentinya menampilkan blood and carnage (a shower sex kill? HELL YEAH!).

10 tahun setelah Prometheus, Covenant menceritakan ekspedisi kapal koloni yang membawa 2000-an penduduk ke sebuah planet baru yang dikabarkan dapat ditinggali. Awak-awaknya terpaksa terbangun dari cyro-sleep ketika sebuah kecelakaan mengakibatkan kerusakan pada kapal hingga memakan korban jiwa yang salah satunya adalah kapten mereka yang diperankan James Franco dalam kameo blink-it-and-you'll-miss-it. Dalam proses pembetulan kapal, mereka mendapat transmisi pesan dari sebuah planet yang diidentifikasi juga dapat ditinggali dan berada dalam jarak yang jauh lebih dekat dari tujuan pertama mereka. Oram (Billy Curdup) yang kini ditunjuk sebagai kapten, memutuskan untuk mengunjunginya, bahkan setelah diperingati Daniels (Waterston), istri mendiang sang kapten. Tentu saja kecurigaan Daniels terbukti benar ketika beberapa awak yang menginjakkan kaki di planet itu menjadi biang bagi parasit alien yang kemudian terlahir (dari punggung mereka) dan membunuh sisa dari mereka satu per satu. Sementara itu, mereka ditolong oleh David (Fassbender), android dari Prometheus yang serupa dengan android mereka sendiri, Walter. Akankah bantuannya dapat menyelamatkan mereka?

Covenent bukanlah film yang buruk, hanya saja saya mengharapkan lebih. Pada umumnya, terdapat dua jenis cerita, yaitu plot-driven dan character-driven. Yang pertama tentu mengutamakan plot, sedang yang kedua mengutamakan tokoh sebagai jangkar penonton. Selama ini, film-film Alien, dengan pengecualian Prometheus, bersifat character-driven karena semua plotnya kurang lebih adalah bagaimana tokoh-tokoh yang ada di layar mati satu per satu hingga hanya tersisa satu wanita tangguh. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa pondasi serta pengembangan tokoh menjadi hal yang krusial. Alien dan Aliens terbilang sukses melakukan ini berdasarkan tokoh-tokohnya yang mudah diingat (Ripley, Dallas, Newt, Hicks, Bishop, dll). Covenant tidak. Kecuali Oram, Daniels, dan David/Walter, seluruh tokoh yang dihadirkan amat tipis sehingga saya pun tidak peduli siapa nama mereka, apalagi apakah mereka akan menjadi mangsa sang alien atau tidak, dan ketidakpedulian ini menimbulkan mati rasa, dan mati rasa menimbulkan bosan. Danny McBride, dengan karisma dan permainan against-type-nya di sini, pun tak luput dari kekurangan ini. Hal ini berusaha ditanggulangi oleh sang penulis dengan membuat tokoh-tokoh tersebut berstatus menikah dengan satu sama lain, tetapi trik ini malah membuat bobot emosinya menjadi terkesan murah.

Untungnya, mereka yang tokohnya ditulis dengan cukup baik, diperankan pula dengan sama baiknya. Waterston, menerima obor dari Noomi Rapace yang juga menerima obor dari Sigourney Weaver, cukup berhasil menginjakkan kakinya ke dalam sepatu mereka. Namun, tak dapat dipungkiri juga bahwa jika dibandingkan dengan Rapace dan Weaver, dia adalah heroine yang terlemah. Curdup menjiwai tokohnya dengan cukup menyeluruh, meskipun tokohnya terkadang membuat kesal juga dengan keputusan-keputusan bodohnya, apalagi di babak kedua. Yang paling bersinar adalah Fassbender yang memerankan, tak hanya satu, tapi dua android dengan sifat yang berbeda. Dengan manerisme, suara, dan penampilan yang sama, Fassbender berhasil memisahkan keduanya dengan mulus.

Lalu apabila penokohannya tidak cukup berhasil, bagaimana dengan plotnya? Saya menyesal untuk bilang bahwa aspek yang satu ini juga tak jauh lebih baik. Ya, Prometheus memiliki banyak lubang, tetapi menurut saya, setidaknya ia orisinil. Covenant, seperti yang saya bilang, memanfaatkan formula film slasher, perbedaannya mungkin tambahan bumbu lapis filosofi, tetapi ini pun setengah-setengah, dan twist di akhir filmya juga tertebak dari jauh hari. Apakah lubangnya setidaknya sudah tertambal? Tidak juga, banyak sekali adegan yang membuat saya berkerut jidad. Baiklah, bagaimana dengan aspek slasher-nya, kalau begitu? Nah, untung saja untuk yang satu ini akhirnya saya bisa dengan yakin mengatakan bahwa film ini berhasil. Covenant memiliki banyak adegan berdarah-darah yang cukup intens. Meskipun saya tidak bersimpati pada tokoh-tokohnya, setidaknya saya mendapatkan pengalaman amat menyenangkan yang selalu ingin membuat bersorak setiap kali bagian-bagian tubuh mereka tertebas para alien. Rasanya seperti sedang menonton filmnya Jason Vorhees, hanya saja dengan production value dan penyutradaraan yang jauh lebih tinggi, dan saya cinta Jason Vorhees!

Kalau begitu, secara keseluruhan, apakah Covenant bisa dibilang bagus? Ya, mungkin 7.5/10-lah. Saya terhibur, tatapi saya tidak akan setuju apabila ada yang bilang ini jauh lebih memuaskan ketimbang Prometheus.

Kurnia Cahya Putra

A self-proclaimed movie geek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar