Review: Sweet 20 (2017)

The Ultimate Indonesian Feel-Good Movie

oleh Kurnia Cahya Putra

Sweet 20 (2017)
Disutradarai Ody C. Harahap
Dibintangi Tatjana Saphira, Slamet Rahardjo, dan Lukman Sardi
Produksi Starvision Plus & CJ Entertainment


Pada masa kini, sulit, bahkan mungkin mustahil, untuk menemukan film dengan ide cerita yang orisinil, sehingga kualifikasi paling valid dalam menilai sebuah film dalam sisi cerita mungkin bukan seberapa barunya ia, melainkan seberapa bagusnya eksekusinya. Sweet 20 memiliki premis yang sangat familiar, yaitu body-swapping, yang sebelumnya cukup sukses diaplikasikan oleh Freaky Friday, 13 Going on 30, 17 Again, dan sebagainya. Bahkan, ia juga merupakan daur ulang dari film Korea berjudul Miss Granny. Untuk menilai Sweet 20 adalah menilai bagaimana ia dapat meghidupkan tema lama tersebut sehingga segar kembali dan bagaimana ia berhasil menyesuaikan diri dengan kultur Indonesia setelah jauh bermigrasi dari Korea. Dalam kedua aspek tersebut, Sweet 20 berhasil memberikan sajian yang memuaskan.

Fatma adalah janda 70 tahun yang hidup serumah dengan keluarga putranya. Memiliki pribadi yang cukup keras dari hasil tempa masa mudanya yang tidak terlalu menyenangkan, Fatma menjadi presensi yang mengganggu bagi mereka hingga titik di mana menantunya harus dirawat di rumah sakit. Keluarganya pun berdiskusi untuk menitipkannya di panti jompo tanpa mengetahui bahwa dia mendengarkan pembicaraan mereka. Fatma yang sakit hati lalu pergi ke sebuah studio foto untuk mengabadikan dirinya ketika masih hidup. Sang fotografer menjanjikan dia akan terlihat 50 tahun lebih muda, dan begitu fotonya diambil, itulah yang terjadi. Fatma keluar sebagai gadis berusia 20 tahun. Dia pun menamai dirinya Mieke karena Mieke Wijaya adalah aktris favoritnya, dan dalam tubuh barunya, dia memenuhi impiannya untuk menjadi penyanyi dengan bergabung bersama band cucunya.

Kesegaran Sweet 20 datang dari fakta bahwa ia (sepengetahuan saya) adalah film body-swapping pertama di Indonesia, dan melihat bagaimana tema ini dieksekusi di tanah air sudah cukup membuat saya tergelitik senang sebagaimana warga Indonesia yang rendah diri senang ketika melihat orang asing mengenakan batik atau nama 'Indonesia' disebutkan sambil lalu di sebuah adegan film. Ditambah lagi, pengadaptasian kulturnya pun dikerjakan dengan niat oleh Upi Avianto selaku penulis naskah. Salah satu adegan yang paling lucu adalah ketika Mieke (dengan pelipis berkoyo) menonton sinetron dan frustrasi dengan pengeditannya yang berlebihan ketika ada suatu pengungkapan plot. Emas. Pun halnya dengan penginklusian tembang-tembang klasik yang Mieke nyanyikan bersama band cucunya seperti Payung Fantasi dan lainnya yang cuma ibu saya kenali.

Kekurangan hanya datang dari penjagaan tempo. Secara keseluruhan, Sweet 20 memiliki plot yang cukup penuh, namun ada beberapa bagian di mana perjalanannya terkesan lambat (dibandingkan dengan interaksi Fatma dan tokohnya Slamet Rahardjo yang amat menghibur karena chemistry mereka yang kuat, saya sungguh tidak peduli kepada hubungannya dengan tokohnya Morgan Oey yang menghabiskan paruh tengah film). Kekurangan lain juga datang dari para aktornya yang, harus saya tekankan, sesekali tidak memiliki timing yang pas dalam menyampaikan sebuah guyonan meskipun secara keseluruhan mereka semua memberikan performa yang cukup solid. Omong-omong soal solid, Tatjana Saphira yang luar biasa cantik dalam balutan busana '50-an (sangat Audrey Hepburn-ish) berhasil membuat saya geleng-geleng kagum di sepanjang film. Tatjana menjiwai tokoh Fatma/Mieke dengan sepenuh hatinya sehingga saya sungguh memercayai segala perasaan yang dia rasakan. Saya dibuat kesemsem dengan tingkah konyolnya, lalu dibuat menangis ketika ada adegan hati ke hati antara dia dan putranya.

I mean, just look at that face!
Akan tetapi, bintang sesungguhnya dari film ini bagi saya secara pribadi adalah para aktor lama kita seperti Niniek L. Karim, Slamet Rahardjo, dan Widyawati. Menyaksikan para legenda seperti mereka berinteraksi memberikan saya kesenangan tersendiri yang tak mampu saya verbalisasikan seperti ketika saya menyaksikan Bette Davis, Marilyn Monroe, George Sanders, dan lainnya duduk di tangga membicarakan kehidupan para pekerja teater di All About Eve. Apalagi ketika Niniek L. Karim dan Widyawati bertengkar, dan Slamet Rahardjo harus memisahkan mereka, sangat terlihat sekali bahwa mereka tulus bersenang-senang di sini. Lebih lanjut lagi, Niniek L. Karim juga memberikan performa yang sama bagusnya, mungkin bahkan lebih baik dari Tatjana Saphira, sebagai Fatma.

Apabila Anda bingung mau menonton apa di musim liburan ini, pastikan Anda memilih Sweet 20 karena ia berhasil mengadaptasi Miss Granny secara mulus untuk orang-orang Indonesia dan untuk melihat bagaimana terminologi 'feel-good movie' terealisasikan secara sempurna. Saya berjanji, Anda akan meninggalkan studio dengan senyuman lebar. 8/10.

Kurnia Cahya Putra

A self-proclaimed movie geek.

2 komentar:

  1. Hal lain yang gue suka dari film ini adalah kepresisiannya dalam mengeksekusi sebuah adegan. Inget waktu Hamski muntah-muntah di dufan? Ironically, sepasang muda-mudi justru asik selfie di belakangnya yang menurut gue, menambah sisi komedi dari adegan tersebut. Juga pas bagian tabrakan (you know who) ada semacam bekas gesekan di aspal dan asap-asap yang perlahan memudar untuk menunjukkan betapa kerasnya tabrakan yang dialami. Sepele, memang, tapi detail-detail kecil itu juga yang buat gue jatuh cinta sama film ini. Nice, kur!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Good eye! Didn't notice them and you make me love this even more. It just spoils you when you notice there are filmmakers who really put their heart and soul into a movie, doesn't it?

      Hapus